Pesan Bupati Kepada Pengurus RT /RW, Pendataan Program Bantuan Harus Benar Dan Tepat Sasaran

SANGIHE,GN- Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe Michael Thungari,SE,MM mengatakan bahwa Pendataan Program bantuan harus didata dengan benar dan tepat sasaran, pesan ini ditujukan dan ditegaskan Bupati kepada pengurus RT dan RW, ketika menyampaikan sambutan pada acara pelantikan lembaga Kemasyarakatan Kelurahan (LKK), SE-Kecamatan Tahuna Timur jumat (30/10/2025), di Papanuhung Santiago Tampungang Lawo.

” Bagi Bapak/Ibu Pengurus RT/RW saya berpesan kalau ada Pendataan Program bantuan tolong didata dengan benar dan tepat sasaran bagi masyarakat yang betul-betul layak menerima dan membutuhkan ,”kata Thungari.

Bupati pun menegaskan bahwa dalam Pendataan jangan karena ada hubungan keluarga sehingga mendata keluarga dan yang tidak layak menerima bantuan.

” Jangan sampai laporan demi laporan bahwa yang didata adalah keluarga dan yang tidak layak menerima bantuan, sehingga ini menjadi perhatian kita semua khususnya bagi Pengurus RT/RW,” tegas orang nomor satu di Bumi Tampungang Lawo.(RB).




Lantik 160 Pejabat Fungsional PPPK, Ini Pesan Dirut Prof Starry

Manado,GN- Direktur Utama (Dirut) RSUP Kandou Manado, Prof Dr dr Starry Rampengan, SpJP (K), FIHA, MARS, Selasa (28/10/2025) melantik 160 pejabat fungsional Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Dalam sambutannya Prof Starry mengatakan bahwa diterimanya PPPK ini adalah untuk memperkuat tata kelola dari rumah sakit.

“Melalui jabatan fungsional, kompetensi dan kinerja ASN dapat diukur secara objektif, dihargai secara adil, dan dikembangkan secara berkelanjutan,” kata Prof Starry.

Dirut mengharapkan agar menjadi momentum untuk menegaskan peran dan tanggung jawab setiap pegawai fungsional dalam meningkatkan mutu dan pelayanan kesehatan, khususnya di RSUP Kandou.

“Kita bekerja untuk Tuhan, untuk manusia menolong sesama. Jangan seperti anak kecil yang harus diawasi, tapi bekerjalah dengan penuh dedikasi dan rasa tanggung jawab,” ungkapnya

“Tingkatkan yang baik dan kurangi yang buruk. Kalau merasa tidak mampu berkembang di sini, silahkan pindah ke tempat lain. Karena hanya orang-orang terbaik yang bisa bekerja di rumah sakit Kandou tercinta ini,” tandasnya. (sisco)




Berikut Pesan Dirut Panelewen Dalam Puncak Perayaan Paskah RSUP Kandou Manado

Manado,GN- Tinggal Dalam Kristus, Berbelarasa dan Berpengharapan merupakan tema puncak Perayaan Paskah RSUP Prof Dr RD Kandou Manado Rabu, (25/5/2022) yang diIaksanakan lewat ibadah Paskah oleh segenap karyawan Kristiani RSUP Kandou Manado dengan di Gereja Oikumene Lukas RSUP Kandou Manado.

Ibadah tersebut dipimpin oleh Pastor Revi Tanod, Pr di hadiri langsung Direktur Utama RSUP Kandou Manado Dr dr Jimmy Panelewen,SpB-KBD bersama jajaran.

Kegiatan Paskah tahun ini ditangani oleh KSM/Bagian Mata yang diketuai oleh Dr dr Vera Sumual, SpM. Dalam laporan panitia, bahwa kegiatan Paskah kali ini, panitia telah melakukan berbagai kegiatan seperti anjangsana ke panti asuhan dr J Lukas dan Panti Sosial Tuna Netra Batemeus.

Selain itu, juga di gelar Bakti Sosial berupa Pengobatan Gratis dan Penyuluhan Kesehatan ke Desa tataaran 1 dan 2 Tondano serta Desa Tempok Kecamatan Tompaso Minahasa.

Direktur Utama (Dirut) RSUP Kandou Manado Dr dr Jimmy Panelewen,SpB-KBD mengajak melalui pesan Paskah kali ini bahwa Yesus Kristus rela mati dikayu salib dan berkorban untuk menebus Dosa umat manusia secara Cuma-cuma. “Tanpa mengharapkan imbalan,Yesus Kristus rela mati dikayu salib dan berkorban untuk menebus Dosa umat manusia secara Cuma-cuma,” kata Dirut.

Oleh karena itu, lanjut Dirut mengatakan di tengah perayaan Paskah ini, Dirut mengajak untuk memahami makna kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.

“Marilah kita memahami Makna kebangkitan, kepada seluruh dokter serta seluruh tenaga kesehatan bahkan pegawai untuk dapat memaknai perayaan Paskah ini lewat tugas kerja masing-masing dan terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien yang ada di RSUP kandou Manado,” tandasnya. (*/sisco)




Berikut Ini Pesan Pastoral PGLII Terkait Covid-19

Sulut,GN- Pastoral Persekutuan Gereja-Gereja Dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) menyampaikan pesan berikut ini.
Mahami Tema PGLII 2020-2024, yakni Menghadirkan Kabar Baik dan Membangun Bangsa Melalui Iman yang Dalam dan Kokoh” (Markus 16:15; Yesaya 25:3) kita diajak untuk kembali merenungkan bangunan kehidupan iman Kristen kita, panggilan kita dan tanggung jawab kita masing-masing.

Anggota dan Pengurus PGLII
Pertama, Tidak ada seorang pun di Indonesia yang sebelumnya telah menduga akan terjadi sebaran Covid19 yang merebak dari Wuhan-China ke seluruh dunia, lebih dari 200 negara, bahkan termasuk di Indonesia. Pengaruh Covid19 telah “merubah” banyak tatanan kehidupan keagamaan, sosial-ekonomi, politik, dunia tenaga kerja, termasuk kehidupan masing-masing keluarga. Banyak ahli bependapat untuk merestorasi akibat Covid19, dalam ukuran suatu negara besar dan maju saja dibutuhkan waktu diatas dua tahun. Dari sisi, tatanan ekonomi tidak ada satupun negara yang mencapai target, mata uang banyak negara anjlok, pengangguran di seluruh dunia meningkat, sementara kebutuhan pokok mulai dari bayi hingga lanjut usia menjadi sangat sulit diperoleh dan mahal. Hal ini, belum termasuk kebutuhan energi, kesehatan, pendidikan dan keuangan yang menjadi sangat tidak stabil. Covid19 benar-benar telah membuat banyak kepala negara menjadi sangat repot karena vaksin Covid19 belum juga ditemukan, dan masih belum tahu berapa lama harus me-lockdown atau mengkarantina negaranya, wilayahnya atau kotanya? Korban yang berjatuhan akibat Covid19 tidak mengenal batas dan status sosial manusia. Ada Pangeran, Ratu, Menteri, Artis, Olahragawan, Pengusaha, Tenaga medis, Pendeta, Kiayi, rakyat biasa dan siapa saja. Dan hingga hari ini, tidak ada seorang pun yang tahu kapan waktunya Covid19 akan segera berhenti?

Kedua, Kita adalah orang yang percaya dan beriman kepada Allah Bapa, Yesus Kristus Juruselamat dan Kepala Gereja kita, dan Roh Kudus Penolong dan Penghibur kita sekalian. Kita hidup dalam suatu hubungan yang terjaga dengan Allah kita, kasih kita dan keyakinan iman kepada Tuhan Yesus melampaui apapun yang ada di dunia ini. Kita adalah anak-anak-Nya (Yohanes 1:12), kita memiliki Roh Kristus (Roma 8:9,10); kita memiliki roh yang lebih besar dari roh yang ada dalam dunia ini (1 Yohanes 4:4), karena Roh Kudus dicurahkan di dalam kehidupan kita, kita memiliki kuasa dan menjadi saksi-Nya (Kisah Para Rasul 1:8), kita diberi kuasa di dalam namaNya untuk mengusir setan (Markus 16:17); dan kita juga diberi kuasa untuk menginjak ular dan kalajengking, dan kuasa untuk menahan segala kekuatan musuh (Lukas 10:19); dan tidak ada hal apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (Roma 8:35). Namun demikian, tidak dibenarkan jika kita menjadi lalai atau ceroboh dalam menghadapi sebaran Covid19. Hal-hal yang telah telah dihimbau dan diatur oleh World Health Organization (WHO) dan Pemerintah RI, untuk menghentikan sesaat seluruh kegiatan peribadahan yang mengumpulkan banyak orang, bekerja dari rumah, belajar dari rumah, beribadah di rumah; Menjaga jarak – Social Distancing, Phisical Distancing, tetap menjaga hidup sehat dan tetap tinggal di rumah, sangat perlu disambut dan diikuti dengan baik.

Ketiga, Karena itu betapa kita patut bersyukur dan menjadi sangat penting karena kita sekalian hidup “di dalam Kristus”, memiliki kesempatan menghadirkan Injil Kabar Baik, sekaligus tetap terlibat dalam pembangunan bangsa melalui iman yang dalam dan kokoh (Markus 16:15; Yesaya 25:3). Memiliki iman yang semakin dalam dan semakin kokoh *Deeper and Stronger Faith* (Yohanes 15:7, Kolose 2:6,7); memiliki Pikiran Kristus (1 Korintus 2:16); dimana kita hidup dengan percaya dan bukan dengan melihat (2 Korintus 5:7). Ya, hanya dengan “Iman yang makin dalam dan makin kuat” kita dimampukan menghadapi semua ujian dan tantangan yang tengah terjadi, namun tetap berada pada barisan perarak-arakan pembangunan bangsa yakni melalui ideologi Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika melawan musuh bangsa ini termasuk Covid19. Dari adanya sebaran Covid19 ini, kita patut belajar memahami maksud dan rencana Tuhan, sekaligus memeriksa dan merenungkan kembali bangunan seluruh hidup keimanan kita, keluarga kita, ibadah kita dan pelayanan kita. Betapa kita patut menyadari, bahwa “Kekristenan yang dangkal” hanya berakibat pada kehidupan iman kita jauh dari kemampuan untuk berdiri kuat, yang memampukan kita bertahan menghadapi gelombang ujian yang sangat besar ini. Saat seperti ini, bukan lagi suatu pilihan tetapi keharusan, bahwa Kekristenan kita haruslah “Kekristenan yang dalam dan kuat” karena dengan demikian, sehebat apapun tantangan dan ujian yang datang, setiap orang Kristen tidak dibenarkan jatuh sampai tergeletak (Mazmur 37:24). Di dalam Kristus, kita diajarkan untuk merayakan kehidupan ini, yang karenanya kita diajarkan untuk mengutamakan dan memperjuangkan juga kehidupan ini, yang kelak memampukan kita mengkomunikasikan kehidupan Kristiani kita yakni sebagai garam dan terang dunia (Matius 5: 13-16), sebagai suatu kesaksian Allah kita di dalam Kristus, bahwa Ia hidup, berkuasa dan peduli atas kehidupan kita, keluarga kita, pelayanan kita dan jemaat serta masyarakat yang majemuk.

Empat, Berdiam di rumah adalah kesempatan yang harus digunakan untuk membangun kembali relasi di antara sesama anggota keluarga, sekaligus membangun ibadah keluarga yang kemungkinan selama ini tidak pernah atau jarang dilakukan, termasuk oleh keluarga Anggota dan Pengurus PGLII. Demikian pula bagi gereja-gereja dan lembaga-lembaga keagamaan, situasi yang berkembang akibat Covid19 yang telah membawa banyak perubahan dan akibat, seperti kehidupan ini menjadi sulit, perlu segera secara bersama-sama untuk saling membantu dan memberi bantuan baik dalam bentuk doa, tenaga sukarela, barang maupun uang, yang diperlukan baik untuk warga gereja, hamba-hamba Tuhan atau masyarakat luas. Dan tentu saja dalam situasi seperti ini, bukan saja ibadah on line menjadi “salah satu” pilihan yang baik untuk tetap menggembalakan kawanan domba Allah, tetapi juga kesempatan untuk membangkitkan iman serta melaksanakan Amanat Agung yang sedang terbuka luas. Inilah waktu penuaian yang besar bagi siapa saja yang meleyani Tuhan dan tetap setia terhadap Amanat Agung, karena hari ini sedang banyak orang yang hidup dalam rasa takut, ketidakpastian dan kecemasan, yang membutuhlan keselamatan sejati dari Tuhan Yesus Kristus. Inilah waktunya menyebarkan Injil Kabar Baik itu. (*/sisco)