Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Isolasi Tekanan Negatif RSUP Kandou Manado

Manado,GN- Guna mengantisipasi meningkatnya jumlah pasien terutama yang terindikasi covid-19, RSUP kandou Manado menambah kembali ruangan Isolasi Tekanan Negatif.

Ini yang dikatakan oleh Direktur Utama (Dirut) RSUP Prof Dr RD Kandou Manado Dr dr Jimmy Panelewen,SpB-KBD usai melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung Isolasi Tekanan Negatif, Rabu (30/9/2020) pagi tadi.

” Peletakan batu pertama pembangunan gedung Isolasi Tekanan Negatif ini, exicting ruangan tekanan negatif memang sudah ada dengan memiliki kapasitas 10 tempat tidur, namun dengan meningkatnya jumlah pasien terutama yang terindikasi Covid-19 maka RSUP kandou Manado memerlukan ruangan tambahan, untuk pasien Isolasi Tekanan Negatif. Proyek ini akan bertambah 28 tempat tidur,” jelas Dirut kepada sejumlah wartawan.

Pembangunan proyek ini diharapkan oleh Dirut, dapat selesai dalam dua bulan kedepan. ” Tentu diharapkan proyek ini selesai dalam waktu dua bulan kedepan supaya bisa diresmikan,” terang Dirut.

Turut hadir dalam pelaksanaan peletakan batu pertama pembangunan gedung Isolasi Tekanan Negatif ini, yakni Direktur SDM Pendidikan dan Umum, Dr dr Ivonne E Rotty Mkes, Direktur Perencanaan Keuangan dan BMN Dewi Anggraini SE MM, Direktur Pelayanan Medik Keperawatan dan Penunjang dr Jehezkiel beserta jajaran. (framu/sisco)




Satgas Covid-19 Nyatakan Hasil Pemeriksaan Pejabat Dan Staf Sekretariat DPRD Sulut Negatif Corona

Juru Bicara Satgas Covid-19 dr Steaven Dandel,MPH (foto:gemparnews)

Sulut,GN- Rapid Tes yang dilakukan Satgas Covid-19 Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ke sejumlah pejabat dan staf di Sekretariat DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang masuk kriteria Kontak Erat Resiko Tinggi Korona, Jumat (27/3/2020) sebanyak 30 orang semuanya dinyatakan negatif.

Dalam konferensi pers bersama sejumlah media, Juru Bicara Satgas Covid-19 Provinsi Sulut dr Steaven Dandel,MPH menjelaskan bahwa satgas tadi sudah melakukan pemeriksaan rapid tes.

“Ada 30 yang kami periksa, semuanya menunjukan hasil negatif. Tetapi kemudian sesuai dengan SOP dimana sepuluh hari kemudian mereka harus dilakukan pemeriksaan kembali,” kata Dandel.

Lanjut Dia, untuk pemeriksaan rapid tes ini satgas harus menyiapkankan perangkat-perangkat tenaga kesehatan yang kualified.

“Ketika kami melakukan uji coba tadi, rapid tes ini tidak bisa dilakukan oleh masyarakat awam, karena prosedurnya lebih rumit dari yang kita bayangkan,” ujarnya.

Lebih jauh di jelaskannya, untuk pengambilan sampel darah harus di lakukan pengambilan melalui pembulu darah.

“Darahnya tidak bisa diambil hanya melalui tusuk jari, tapi harus diambil dari pembulu darah dengan jarum suntik. Nanti akan dimasukan ke alatnya baru bisa diketahui hasilnya,” tutup dandel.
Penulis: (*/sisco)