Hasil Penelitian WLN, Dugaan Pencemaran Limbah PT Sasa Inti Minsel Tidak Terbukti

Minsel,GN- Terkait dugaan pencemaran limbah beracun PT Sasa Inti Minsel kesungai Tongop yang diberitakan oleh beberapa media, berdasarkan hasil verifikasi yang telah direlease Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Minsel Kamis,(13 Agustus 2020 ) lalu , bertempat di salah satu hotel di Amurang bahwa dugaan pencemaran tersebut tidak terbukti.

“Ini didukung dengan hasil pengujian sampel air oleh Laboratorium yang terakreditasi yakni Water Laboratory Nusantara (WLN),dimana hasil uji kwalitas air limbah menunjukan nilai di bawah baku mutu,” jelas Ardhian Herdyanto selaku Deputi Head Plant di dampingi HRGA Manager Linda Prang kepada sejumlah wartawan Jumat,(21/8/2020).

Sementara,terkait pemberitaan mengenai perekrutan tenaga kerja oleh PT Sasa Inti Minsel yang diduga sedang menjalani isolasi mandiri karena covid-19, Ardhian menjelaskan bahwa setiap perekrutan tenaga kerja (karyawan) yang berasal dari luar daerah atau zona merah, perusahaan menerapkan protokol kesehatan mensyaratkan untuk dapat menunjukan bukti hasil rapid test dari calon karyawan tersebut. ” Syaratnya calon karyawan luar daerah atau zona merah harus menunjukan hasil rapid test,” ungkap Dhani sapaan akrabnya.

Sementara itu, Linda Prang selaku HRGA Manager membantah bahwa PT Sasa Inti mengabaikan tenaga kerja dari minsel dan merekrut karyawan dari pulau jawa. Linda mengungkapkan bahwa issue ini bertolak belakang dengan actual perekrutan di PT Sasa Inti Minsel.

“Kami sangat memprioritaskan calon karyawan lokal dengan perbandingan 80 persen lokal (Sulut) dan 20 persen lintas daerah provinsi. Kemudian 74 persen merekrut karyawan dari Minsel dan 36 persen karyawan luar daerah Minsel. Jadi total karyawan PT Sasa Inti 782 karyawan,dengan uraian terdiri dari tenaga harian, borongan, permanen dan bulanan,” tutupnya. (sisco)




PT Sasa Inti Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal

Sulut,GN- PT Sasa Inti merupakan perusahaan makanan dari Indonesia yang didirikan oleh Rodamas pada tahun 1968. Nama “Sasa” merupakan singkatan dari “Sari Rasa” yang memiliki slogan (brand tagline) “Sasa Melezatkan”, sesuai dengan perannya dalam melezatkan beragam cita rasa masakan.

Foto: Ardhian Herdyanto selaku Deputi Head Plant di dampingi HRGA Manager Linda Prang Saat Di Wawancarai Media

Perusahaan pemenang TOP CSR Awards 2020 ini, banyak menciptakan berbagai inovasi produk melalui brand Sasa, mulai dari Monosodium Glutamat (MSG), tepung bumbu, santan, bumbu instan, kaldu penyedap, dan rangkaian saus yang memberikan pengalaman rasa untuk semua selera dan membantu konsumen menikmati makanan lezat,sehat, dan berkualitas.

PT Sasa Inti telah mengembangkan perusahaan bisnisnya di Indonesia, salah satu di Desa Radey Jl Trans Sulawesi Jaga-IV No KM 73, Radey Tenga Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.

Perusahaan yang take over dari PT Global Coconat 1 April lalu, telah merekrut banyak tenaga kerja lokal. Untuk perekrutan tenaga kerja, sesuai protokol kesehatan yang berlaku. Langkah yang dilakukan PT Sasa Inti mengembangkan bisnis Santan dengan memprioritaskan tenaga kerja lokal dalam menggerakkan perusahaan di daerah Minahasa Selatan (Minsel) sangat menguntungkan bagi masyarakat khususnya di Kabupaten Minahasa Selatan.

Ardhian Herdyanto selaku Deputi Head Plant di dampingi HRGA Manager Linda Prang kepada media ini menjelaskan PT Sasa Inti memrioritaskan karyawannya secara lokal dari kabupaten Minsel. ” Calon karyawan lokal dengan perbadingan 80 persen lokal (Sulut) dan 20 persen lintas daerah provinsi, kemudian 74 persen karyawan Minsel dan 36 persen karyawan luar minsel,” jelas Dhani sapaan akrabnya.

Meskipun ditengah pandemi lanjut Dhani, PT Sasa Inti tetap jalan dan terus memproduksi. ” Arahan managemen, PT Sasa tetap jalan dan terus memproduksi,” terangnya.

Diakuinya, bahwa peluang di Sulut sangat bagus bahkan potensi pengembangan cukup besar. ” Kami ingin mengembangkan bisnis ini, dengan petani kelapa di Sulut dan membantu mereka membeli hasil petani kelapa. Permintaan perusahaan kami 150.000 ton sampai 180.000 ton setiap harinya,” ungkapnya.

Dia berharap, perusahaan ini dapat di terima oleh masyarakat dan tentunya dapat membantu masyarakat petani yang ada di bumi nyiur melambai ini. (sisco)