Agus Watak : Salah Satu Proses Penyembuhan dan Pemulihan Kesehatan, Pasien Harus Makan Dengan Teratur

Manado,GN- Direktur Utama melalui Kepala Instalasi Gizi RSUP Prof Dr RD Kandou Manado Agus Watak menjelaskan salah satu proses penyembuhan dan pemulihan kesehatan, pasien harus makan dengan teratur.

Kepala Instalasi Gizi RSUP Kandou Manado Agus Watak (foto : Gemparnews)

“Jadi makanan juga diatur, makanan mana yang boleh di konsumsi dan tidak boleh di konsumsi. Jadi kita membuat pembelajaran pada diri sendiri bagaimana mengkonsumsi makanan sesuai kebutuhan,” jelas Watak kepada media Gemparnews.com saat ditemui diruangan kerja, Kamis (24/4/2025).

Watak mengharapkan kepada pasien ketika sudah di rawat dirumah sakit, makanan yang sudah diberikan kepada pasien, mohon sebaiknya dimakan dengan teratur dan harus dihabiskan. Karena itu sudah sesuai dengan energi dan zat gizi. Sebab mengkonsumsi makanan dengan teratur merupakan salah satu terapi dalam proses penyembuhan dan pemulihan.

“Pada prinsipnya pasien itu sebaiknya makan dengan teratur. Jadi makanan itu betapa pentingnya untuk mendongkrak proses penyembuhan dan proses pemulihan. Jadi di himbau kepada pasien agar mengkonsumsi makanan sesuai dengan kebutuhan, pola makan teratur tepat waktu dan jenis makanan juga harus diatur,” tandasnya. (sisco)




RSUP Kandou Terapkan Penyajian Layanan Gizi Makanan Pasien Sesuai Standar

Manado,GN – Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Dr RD Kandou Manado sampai hari ini menerapkan penyajian layanan gizi makanan untuk pasien sesuai standar yang ada.

hal itu dikatakan oleh Direktur Utama RSUP Kandou Manado melalui Kepala Instalasi Gizi, August Porajou Watak,S.ST kepada sejumlah media, ketika di temui di ruangan kerja, Jumat (28/2/2025).

Kepala Instalasi Gizi RSUP Prof Dr RD Kandou Manado August Porajou Watak,S.ST ( foto : Gemparnews)

“Jadi kami memberikan makanan yang spesifikasinya halal. Untuk ke depan sudah ada sertifikasi halal yang harus di ikuti oleh pihak rumah sakit di instalasi gizi khususnya. Karena dengan adanya hal seperti ini, masyarakat lebih percaya bahwa kegiatan kita menerapkan produk halal. Hal ini perlu di standarisasi sehingga pelayanan kita lebih bermutu. Jadi standar – standar seperti itu harus jelas ada,” kata Watak.

Lanjut Watak menjelaskan, Standar yang telah dibuat tidak menjadi patokan. “Memang ada standar-standar yang sudah dibuat oleh kita namun standar ini tidak menjadi patokan. Jika pasien di ijinkan untuk makan maka kami akan ikuti. Kecuali ada makanan yang nota bene dilarang atau tidak halal maka kami pun melarang untuk pasien,” ujarnya.

Sementara untuk pemberian makanan pada pasien kata Watak, pihaknya menyajikan pelayanan makanan sehari tiga kali plus extra.

” Layanan makanan kami sajikan sehari tiga kali plus ektra tambahan sesuai kebutuhan dan bukan terpaku pada kegiatan rutin namun hanya pada kebutuhan,” ucapnya.

Selain itu kata Watak, pihaknya juga memberikan edukasi kepada pasien bahwa pemberian makanan termasuk cita rasa untuk proses penyembuhan dan pemulihan kesehatan.

“Itu juga kami lakukan para ahli gizi untuk menyampaikan pola makanan kepada pasien. Demikian juga para dokter spesial gizi klinik untuk memberikan proses penanganan penyakit gizi yang berhubungan dengan pasien. Ada perbedaan kegiatannya antara ahli gizi dan dokter spesialis gizi klinik,” ungkapnya.

“Jadi fokus kita pada proses asuhan gizi atau layanan gizi sedangkan dokter spesialis gizi klinik fokus pada penyakit gizinya artinya penyakit yang disebabkan oleh gizi,” sambung watak.

Terkait pemberian bumbu makanan untuk pasien di rumah sakit, Watak menjelaskan menyesuaikan dengan kondisi dan penyakit yang di derita oleh pasien.

” Kami memberikan cita rasa garam dan kecap secukupnya dan juga bahan alami lainnya. Karena kami memberikan sajian layanan makanan sesuai standar dan kondisi penyakit pasien. Kami tidak memakai bumbu penyedap rasa seperti ajinomoto, masako dan bumbu penyedap rasa lainnya, karena itu sangat di larang untuk pemulihan dan penyembuhan kesehatan.di rumah sakit ini,” tandasnya. (sisco)