Ramly Kandoli Berharap Pilkada Berjalan Aman dan Damai

Sulut,GN- Akhir-akhir ini, Sulawesi Utara (Sulut) dihebohkan dengan banyaknya video viral keterlibatan ASN dan Perangkat Desa diduga tidak netral, yang secara terang-terangan mendukung salah satu pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut.

Anggota DPRD Sulut Capt Ramly Kandoli,M.Mar (foto: st)

Salah satunya perangkat Desa Lobu Atas, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) misalnya.

Hal ini pun mendapat tanggapan dari anggota DPRD Sulut Capt Remly Kandoli M.Mar.

Ia berharap dalam Pilkada Sulut 2024, berjalan dengan aman dan damai.

“Tentunya netralitas dari ASN, perangkat desa dan penyelenggara pemilih itu penting, karena kalau tidak netral pasti Pilkada tidak akan aman,” ujarnya di Kantor DPRD Sulut, Senin (11/11/2024).

Remly Kandoli adalah anggota DPRD Sulut dari Fraksi PDI-Perjuangan yang terpilih dari Dapil Minsel-Mitra. (*/sisco)




Puluhan Mahasiswa Tuntut DPRD Sulut Lakukan Pengawasan ke  PT JRBM

Sulut,GN- Kantor DPRD Sulut kembali didatangi puluhan mahasiswa, Selasa (15/10/2024) Siang.

Maksud kedatangan mahasiswa tersebut untuk menuntut DPRD untuk melakukan pengawasan dan investigasi terhadap PT. JRBM terkait dengan CSR yang mangkrak di kecamatan lolayan yang mengakibatkan banjir dan merusak hasil panen warga di kawasan lingkar tambang.

Selain itu, puluhan mahasiswa juga menuntut adanya stabilitas harga hasil pertanian serta pembuatan regulasi Perda yang mengatur harga standar pemborong untuk komoditi unggulan.

Dasar tuntutan tersebut, menurut mahasiswa pendemo adalah dampak lingkungan yang dihasilkan perusahaan pertambangan di BMR yang mengakibatkan banjir dan merusak hasil pertanian.

Aksi damai tersebut di terima Sekretaris DPRD Sulut, Niklas Silangen diwakili oleh kasubag Fabiola Sumampouw.

Sumampouw mengatakan bahwa Pimpinan dan Anggota DPRD Sulut sedang melakukan tugas luar.

“Ada baiknya teman-teman mahasiswa menyurat langsung ke kami DPRD Sulut, pasti kami sekretariat akan menyampaikan ke Anggota DPRD,” ujarnya.

Mendengar penyampaian dari sekretariat DPRD Sulut, Mahasiswa menitipkan surat titipan untuk disampaikan ke Pimpinan DPRD Sulut. (sisco)




Rondo dan Mokodompit Terima Massa Aksi Damai di DPRD Sulut

Sulut,GN- Ratusan Gabungan Aliansi masyarakat melakukan aksi damai di kantor DPRD Sulut, Jumat (11/10/2024). Mereka masing – masing menyuarakan aspirasi dan tuntutannya kepada legislator Sulut sebagai perpanjangan masyarakat untuk dapat di perjuangkan aspirasi di kantor DPRD Sulut.

Aksi damai gabungan aliansi masyarakat di Sulut, di terima anggota DPRD Sulut Pricilia Rondo dan Faramitha Mokodompit di ruangan serba guna lantai tiga kantor DPRD Sulut.

Pantauan media ini, sekitar 9 aliansi masyarakat yang hadir. Setiap koordinator lapangan diberikan kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya. Dari sekian aspirasi ada 18 poin yang menjadi pokok aspirasi dan tuntutan masa aksi damai tersebut.

Setelah menerima aspirasi, anggota DPRD Pricilia Rondo dan Faramitha Mokodompit mengatakan bahwa aspirasi tersebut akan di tampung kemudian diteruskan kepada pimpinan DPRD Sulut. ” Semua aspirasi dari teman – teman akan kami sampaikan kepada pimpinan, karena kami juga ada pimpinan di DPRD Sulut,” kata Rondo di sambut tepuk tangan masa aksi damai.

Setelah selesai menyampaikan aspirasinya, masa aksi damai meninggalkan kantor DPRD Sulut dengan tertib. (sisco)




Sosialisasi Pilkada Damai Pilgub dan Wagub Tahun 2024, Ketua KPU Sulut Apresiasi Kehadiran Ketiga Paslon

Sulut,GN- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menggelar Sosialisasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Damai 2024 yang digelar diLapangan Basket Kawasan Megamas, Rabu (25/9/2024) sore.

Kegiatan tersebut diawali dengan doa keenam tokoh agama umat Muslim, Katolik,Protestan, Budha, Hindu dan Konghucu.

Ketiga pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Pilkada 2024 yakni pasangan nomor urut 1 Yulius Selvanus Komaling -Victor Mailangkay (YSK-VM), pasangan nomor urut 2 Elly Engelbert Lasut dan Hanny Joost Pajouw (E2L-HJP) serta pasangan nomor urut 3 Steven Kandouw dan Denny Tuejeh (SK-DT) hadir dalam acara itu.

Ketua KPU Provinsi Sulut, Kenly Poluan dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada ketiga Paslon Gubernur dan Wakil Gubernur yang sudah hadir lengkap beserta partai pengusung atau pengusul masing- masing.

“Kami berharap Kampanye yang berlangsung 25 September -23 November 2024 berlangsung dengan baik,” kata Kenly.

Sesuai komitmen bersama ketiga pasangan calon Gubernur dan wakil Gubernur Pilkada tahun 2024, kampanye berlangsung secara damai.

Setelah melakukan penandatanganan deklarasi dilanjutkan pelepasan burung merpati sebagai simbol perdamaian.

Usai Sosialisasi Pilkada Damai Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara Tahun 2024, KPU Sulut menghadirkan artis ibukota group band GIGI dan artis lokal, untuk turut meramaikan acara tersebut. (sisco)

 




Rangkaian Perayaan Natal, RSUP Kandou Manado Salurkan Bantuan Ke Panti Werdha Damai

Manado,GN- Direktur Utama RSUP Kandou, Dr.dr Ivonne Rotty, M.Kes, bersama dengan Dharma Wanita Pengurus RSUP Kandou dan bagian Kardiologi, menyalurkan bantuan dan bingkisan untuk pengurus dan penghuni panti, Sabtu (30/11/2023).

Kunjungan ini merupakan rangkaian perayaan Natal Yesus Kristus keluarga besar RSUP Prof Dr RD Kandou Manado.

“Kami datang ke sini tidak hanya untuk memberi, tetapi juga untuk belajar dari penghuni panti tentang arti kehidupan dan kebahagiaan,Ini adalah momen yang sangat berharga bagi kami semua bisa berbagi kasih dan suka cita kebahagian dalam kunjungan kasih nyata ini.”kata Dirut Ivonne.

Dirut berharap kunjungan ini dapat membawa semangat Natal dan kebahagiaan bagi penghuni Panti Werdha Damai.

Sementara itu, pengurus Panti Werdha ‘Damai’ mengapresiasi dan menyampaikan terimakasih atas kunjungan RSUP Kandou Manado. Dengan sukacita mereka berbagi cerita dengan tim RSUP Kandou Manado.

“Terimakasih atas kunjungan dan bantuan yang sudah di salurkan kepada kami panti Werdha Damai,” ucap pengurus dan penghuni panti.

Turut hadir Direktur Layanan Operasional dr Wega Sukanto,Sp.BTKV, Ketua Komite Medik Dr. dr, Erling David Kaunang,SpA (K), Manager Tim Kerja Pelayanan Medik dr Wiyono, Manajer Hukum dan Humas Ruslianto Urendeng,S.H., Ketua Dharma Wanita RSUP Kandou, Drg. Elisa, ketua KSM kardiologi Prof. Dr. dr. Starry H. Rampengan, Sp.JP(K). (*/sisco)

 




Diskusi Virtual, Memaknai Pancasila Dalam Konteks Mewujudkan Papua Damai

Jakarta – Kabaintelkam Polri Komjen Paulus Waterpauw menyebut pengamalan dan penghayatan nilai-nilai Pancasila harus menjadi pedoman dalam membangun dan menciptakan kedamaian di Papua.

Hal itu diungkapkan saat mengikuti diskusi virtual bertajuk “Memaknai Pancasila dalam Konteks Mewujudkan Papua Damai” yang digelar Relawan Pancasila Muda, pada Kamis (22/7/2021).

“Saya berpikir memang untuk mewujudkan pembangunan nasional di Tanah Papua, maka kita harus berpaling, berpedoman pada lima sila Pancasila,” kata Paulus seperti yang termuat dalam siaran pers yang diterima redaksi pada hari Sabtu, 24 Juli 2021.

Mantan Kapolda Sumatera Utara dan Kapolda Papua ini menuturkan, Pancasila dimaknai sebagai kepribadian bangsa, menjadi identitas bangsa Indonesia dalam diri setiap pribadi.

Sebagai jiwa bangsa yang terwujud pada setiap lembaga maupun organisasi dan insan Indonesia. Pun, sebagai dasar negara yang menjadi pondasi setiap produk perundang-undangan maupun etika moral bangsa.

Pancasila, lanjutnya, menjadi visi untuk mempersatukan bangsa, menjadi petunjuk dalam mencapai kesejahteraan serta kebahagian lahir dan batin. Sumber hukum dan peraturan, kata dia, tidak boleh bertentangan dengan Pancasila.

Latar belakang sejarah integrasi Papua tercatat dalam Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969. Sejak saat itu sudah ada intrik atau gejolak-gejolak.

Menurutnya, permasalahan dan gejolak itu pada ujungnya menimbulkan berbagai dampak gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban di tengah-tengah masyarakat.

Paulus berpendapat, kaum milenial sesungguhnya memiliki banyak unsur kemampuan baik dari sisi intelektualitas, kapasitas, dan konektivitas untuk dapat terlibat dalam menggerakkan perubahan.

“Sebenarnya, sesungguhnya, harapan itu ada pada daerah otonomi khusus ini yang melahirkan tiga unsur penyelenggara negara di Papua. Kita kenal yang pertama adalah birokrasinya, kemudian legislator, kemudian ada Majelis Rakyat Papua. Tiga pilar ini semestinya menjadi motor penggerak perubahan Papua yang lebih sejahtera aman dan damai. Itu harapannya,” katanya.

Dia menekankan, penyelenggara negara penting dibekali dengan pemahaman, pengahayatan nilai-nilai Pancasila.

“Tiga unsur itu, berdiri tegak lurus mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Karena mereka yang punya semua, mereka yang kerjakan, bicara pendidikan mereka yang punya program, kesehatan ya mereka yang punya program,” ujarnya.

“Pemerintah hanya memberikan dukungan anggaran saja, kebijakan anggaran. Kalau itu mereka jalani dengan benar, dengan objektif, mendengar suara rakyat, suara pemuda, suara orang-orang tua, mama-mama, dan lain sebagainya, dibuat dalam sebuah tata aturan dan itu dijalankan dengan sungguh-sungguh itu saya pikir itu oke,” ucapnya menambahkan.

Dia menegaskan, menjunjung tinggi hukum dan berbuat baik untuk mewujudkan keadilan, juga kepastian hukum di Papua, hal itu harus dilaksanakan unsur eksekutif, legislatif, dan juga Majelis Rakyat Papua sebagai simbol kultur masyarakat Papua.

“Jadi mari sama-sama kita dorong ini, agar betul-betul nilai-nilai Pancasila itu bisa menjadi rel perjuangan bersama untuk mempercepat pembangunan yang sudah dijajaki oleh negara, oleh bangsa ini,” ujar Paulus.

Dalam kegiatan yang diinisasi oleh Pemuda Katolik, Peradah, SEMMI, Gemabudhi, GAMKI, PERISAI, dan IPTI ini, Ketua Umum Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), Willem Wandik menyebut bahwa ada narasi besar yang harus digarisbawahi dalam diskusi tersebut. Narasi yang dimaksud adalah Pancasila dan Damai.

“Damai dimana? Tentunya secara harfiah, menunjukkan tempat, yaitu Tanah Papua. Jika ‘tesis’ yang diajukan dalam narasi besar, tentang tempat yang bernama Tanah Papua itu, disandingkan dengan tujuan, cita-cita, harapan, goals, dan destinasi tentang ‘keadaan damai’, maka, pertanyaan yang perlu untuk diajukan, Apakah Tanah Papua itu sedang tidak damai?” kata Wandik.

Menurutnya, untuk menjawab hipotesis ‘damai’ tersebut seluruh pihak perlu mencari tahu maksud dan tujuan mengapa Tanah Papua membutuhkan kalimat ‘damai’.

“Secara harfiah, kebalikan atau negasi dari kata damai itu berarti konflik. Konflik secara sederhana berarti adanya kesenjangan, baik dari sisi pikiran atau konsepsi maupun pada bentuk tindakan yang di harapkan terjadi atau tidak terjadi,” ujarnya.

Lantas dia mempertanyakan, apa sejatinya yang sedang terjadi di Tanah Papua. Apakah Tanah Papua itu Tanah yang Damai? Ataukah Tanah yang berkonflik?

Lebih lanjut, dia menuturkan beberapa poin yang disebut bahwa Pancasila bisa menjadi solusi tujuan damai di Papua, seperti yang sering didengungkan banyak pihak.

“Pertama-tama, mari kita maknai kata ber-Pancasila, yang dijelaskan dalam bentuk tekstualnya, di antaranya, Pancasila itu berisi adanya cita-cita tentang keyakinan terhadap Tuhan, mencintai sesama atas dasar kemanusiaan, dan menjunjung tinggi kemanusiaan,” tutur Wandik yang juga merupakan anggota DPR RI dari Dapil Papua ini.

“Mencintai persatuan di tengah keberagaman dan bukan berharap menjadi satu identitas saja. Mempraktekkan musyawarah dalam setiap persoalan berbangsa, dan terakhir Pancasila itu mengajarkan setiap orang atau pemimpin untuk berbuat adil,” ucap Wandik menambahkan.

Melihat substansi Pancasila, katanya, seharusnya tidak ada masalah yang diperbincangkan di Tanah Papua, Sebab, kelima asas atau fundamental sila yang menyusun makna tekstual dalam Pancasila tersebut, justru merupakan parameter kehidupan bernegara yang dicita-citakan oleh semua manusia yang hidup di Bumi Nusantara, tanpa terkecuali, termasuk bagi rakyat Papua.

Menyoal bagaimana fakta Pancasila di Tanah Papua, lanjutnya, mayoritas Rakyat Papua meyakini adanya Tuhan, bahkan wilayah yang dipandang paling bergejolak di Pegunungan Tengah di Tanah Papua justru telah lama menjadi pusat pelayanan gereja.

“Namun, patut kita sayangkan, pada konflik bersenjata dalam kampanye agenda militer yang dilancarkan sejak operasi militer di Tanah Papua, justru para pendeta, gembala, pelayan Tuhan, ada yang tewas terbunuh, dengan alasan yang hingga hari ini, tidak bisa dijelaskan ke hadapan publik,” ucapnya.

Kemudian, menjunjung tinggi kemanusiaan atau melindungi satu nyawa manusia, sama artinya dengan menyelamatkan umat manusia secara keseluruhan.

Dia menyebut hal itu adalah tujuan cita-cita dari dirumuskannya Pancasila sebagai dasar filsafat Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun, sambungnya, jika mengecek fakta yang terjadi di Tanah Papua, wajah konflik militerisme, TPM, OPM, KKB, kekerasan dan pelanggaran HAM, seperti dua sisi mata uang koin yang tidak bisa dipisahkan.

“Dalam benak banyak orang, ketika berbicara tentang ‘Papua’, maka kalimat pertama yang terucap adalah tingginya angka kekerasan dan masalah kemanusiaan,” kata Wandik.

Dia menegaskan, Pancasila di Tanah Papua ternyata sama sekali belum eksis, padahal peristiwa monumental Pepera 1969 yang menghantarkan rakyat Papua kembali dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia telah secara resmi menempatkan Tanah Papua sebagai kepulauan terakhir yang bergabung bersama Republik.

“Namun, nasib warga negara di Tanah Papua, masih dibayang-bayangi dengan ancaman kekerasan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya,” terang Wandik.

Di sisi lain, Pemuda Katolik Edward Wiryawan menyebut bahwa dalam konteks ancaman, thread, atau risiko, persoalan-persoalan Papua harus dikaji dalam perspektif Geo Politik.

Menurutnya, ada kekuatan asing, proxy war, kepentingan globalis dalam situasi keamanan di Papua. Berbagai kekuatan itu masuk melalui pemicu seperti rasialisme, ketimpangan ekonomi, dan lain sebagainya.

“Menanggapi multi persoalan di Papua, kita, Indonesia punya Pancasila. Pancasila bisa dimaknai beragam, mulai dari sebagai kepribadian bangsa, social guidance, hingga kepada Pancasila sebagai cita-cita bangsa. Saya meringkas, bahwa Pancasila adalah kitab suci Warga Negara Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Edward.

“Pancasila akan cukup jika ia diimplementasikan dalam kebijakan, baik nasional maupun daerah. Papua pada akhirnya harus dilihat sebagai subjek dan bukan objek. Papua harus dilihat dalam kesetaraan, kesamaan dan bagian dari bumi Indonesia; dari negeri Bhinneka Tunggal Ika,” pungkasnya.

Turut hadir beberapa penanggap lainnya, antara lain Ketua Umum SEMMI Bintang Wahyu Saputra, Ketua Umum Gemaku JS Kristan, Ketua Umum Peradah I Gde Ariawan, dan Sekretaris Jenderal Gemabudhi Suprionoto. (*/sisco)




Polres Minahasa Selatan Gelar Doa Bersama Untuk Pilkada Damai

MINSEL, GN – Polres Minahasa Selatan menggelar ‘Doa Bersama Untuk Pilkada Damai’, Kamis pagi (03/12/2020), yang dilaksanakan oleh seluruh personel sesuai dengan masing-masing Agama.

Personel Agama Kristen melaksanakan kegiatan ibadah dan doa bersama di Gedung Aula, personel agama Hindu di Ruang Posko OMP, sedangkan personel yang beragama Muslim di Masjid Al Kahfi Polres Minsel; yang masing-masing dipimpin oleh tokoh agama.

Dalam sambutannya, Kapolres Minsel AKBP S. Norman Sitindaon, SIK, mengungkapkan bahwa kegiatan Doa Bersama ini untuk memohonkan kekuatan dan perkenanan Tuhan Yang Maha Esa agar penyelenggaraan Pilkada Serentak Tahun 2020 dapat berlangsung aman, tertib, lancar, damai dan kondusif.

“Selaku Manusia CiptaanNya, patutlah kita memanjatkan syukur serta memohonkan kekuatan, perkenanan dan penyertaan Tuhan Yang Maha Esa, agar penyelenggaraan Pilkada pada tanggal 9 Desember nanti dapat berlangsung aman, lancar, tertib dan damai,” ucap Kapolres Minsel.

Kapolres juga mengingatkan kepada seluruh personel jajaran untuk tetap menjaga kesehatan serta kebugaran fisik agar siap melaksanakan tugas menjaga, mengawal dan mengamankan tahapan pemungutan suara Pilkada Serentak tahun 2020.

Keseluruhan kegiatan ‘Doa Bersama’ berlangsung dengan tetap menerapkan Protokol Kesehatan; diakhiri dengan foto bersama Kapolres Minsel, Pejabat Utama Polres Minsel dan para Tokoh Agama. (*/Jusak Poludu)